Minggu, 21 Desember 2008

Analisis Novel Jalan Tak Ada Ujung

Nama : Sri Mulyati
NIM : 0605126


Judul : Jalan Taka ada Ujung

Karangan : Mochtar Lubis

1) Sinopsis

Dari novel tersebut menceritakan guru Isa yang ketakutan pada masa revolusi. Ketika Guru Isa sedang berjalan kaki menuju sekolahnya di Tanah Abang, dia mendengar tembakan pertama di gang jaksa dan itu memecahkan kesunyian pada guru Isa. Dalam pikirannya rasa was-was teringat keselamatan istri dan anaknya di rumah. Dihari-hari pertama revolusi itu, guru Isa belum menganalisis benar-benar kedudukannya, kewajibannya dan pekerjaannya dalam revolusi. Hari itu bertemu muka dengan segi-segi keras dan tajam dari revolusi, penumpahan darah, darah manusia. Guru Isa akan merasa terluka hatinya jika dikatakan padanya, bahwa yang dirasakan sekarang adalah rasa takut. Tetapi pada dirinya sendiri dia tidak hendak mengakui bahwa dia takut, rasa takutnya itu ia melakukan perbuatan yang berani dan bersifat kepahlawanan.

2) Kutipan

· Hujan gerimis senja lekas menggelap. Terang yang ditimbulkan amat cepat diganti oleh gelap yang lebih pekat patruli yang membelok ke kiri kanan. Terus dan terus di jalan-jalan sunyi, kosong dan sepi. Jalan dalam malam, hujan gerimis gelap, jalan berliku tak habis-habis, jalan tak ada ujung.

· Tiba-tiba ada suara gemuruh mengejutkan – orang berteriak – siaap ! siaaap ! bersahut-sahutan dan belum sempat dia lari dari arah kebon sirih dua buah truk penuh berisi serdadu memakai top waja masuk ke gang jaksa.

· Saya pergi telepon Kantor Berita Antara, “Kata anak muda yang berpistol itu kepada siapapun juga dia berbicara kepda dirinya sendiri.

· “Wah, gua takut setengah mati. Bukan takut sama si ubel-ubel tapi sama pemuda. Setelah si ubel-ubel pergi, mereka datang dan ambil kembali. Baru gua lengah”.

· Melihat mereka berdua dibalik jendela, pemuda itu datang membungkuk-bungkuk kedekat jendela dan berkata, “Truk ubel-ubel di ujung jalan. Mereka mau kemari dari Tanah Abang Bukit. Hati-hati”.

· “Astagfirullah !” Isa berseru dalam hatinya dan ngeri ketakutan.

· “Persetan !” Sumpahnya. “Kenapa mesti saban pagi mesti ada tembakan ? Dunia ini sudah mau kiamat. Orang semua sudah gila”.

· “Ha, rupanya pistol itu masih belum juga engkau buang ? Bukankah sudah ayah suruh seminggu yang lalu ? Anak kepala batu ! Engkau mau mati ?”

· “Sampai bisa niat mencuri masuk kedalam kepalaku”. Pikirnya, malu pada dirinya sendiri.

· Kesusahan-kesusahan masa Jepang dan bulan-bulan belakang ini yang membikin aku merasa lebih tua.

· Guru Isa menukar lagu dengan sebuah Nocturne chopin, E-flat mayor, lagu yang penuh ketenangan dan abadi dan keindahan....

· “Sudah lama aku tidak mendengar engkau main biola demikian hebat”, kata Saleh padanya ketika Saleh masuk kembali.

· “Chopin lebih tepat dimainkan piano”.

· Aku suka mendengar engkau bercerita tentang musik”. Kata Saleh, “Teruskanlah !”

· “Akh, jiwa dalam musik ini – jiwa yang dimasukkan chopin kedalamnya – api yang membangunkan dalam gesekan biolaku”.

· “FREEDOM IS THE BRITHRIGHT OF EVERY NATION !”

“NICA-NO INDONESIAN CARES ABOUT”.

· “gesekan biolamu, meskipun belum lancer dan mahir, mengandung tenaga”. Kata guru Isa kepada Hazil memuji.

· “Ya, aku tahu”, kata Hazil , “Kesempatan berlatih amat sedikit”.

· “Aku takut sebenarnya, Fat”. Katanya, “tidak pernah aku berorganisasi seperti ini”.

· “Aku guru”, katanya, “Bukan tukang berkelahi”.

· “Aku terikat oleh dunia tempat aku kecil menjadi besar”.

· “Dengarlah ini”, katanya, “Dan jangan berkata-kata hingga aku berhenti”.

· Musik itu penuh sedan-sedan tangis, merenggut-renggut, diseling oleh melodi berbuai berayun tenang-tenang dan dalam-dalam.

· “Alangkah bagusnya”, katanya, dan matanya bercahaya-cahaya memandang pada Hazil.

· “Terhadap musik demikian apa yang dapat dikatakan ?” balas guru Isa

“Hebat, sungguh hebat”, sambungnya kemudian cepat-cepat. Hazil berkata.

“Apabila engkau ciptakan ? Engkau tidak pernah bercerita...!” Seakan menyesali, dia tak diberitahu.

· Sekarang aku masih bimbang... rasanya belum cukup kuat aku gambarkan perjuangan manusia semenjak zaman dahulu. Perjuangan memburu kebahagiaan”.

· “Siapa manusia merdeka yang bisa hidup dalam ikatan gerombolan ?” Manusia Indonesia sebagai gerombolan dapat dijajah oleh Belanda dari 350 tahun

· “Engkau jenius musik !” Katanya menepuk bahu guru Isa, “Engkau berikan aku satu pikiran baru, ha” serunya, “Siapa bilang musik Indonesia tidak mengandung tenaga-tenaga terpendam yang hebat-hebat ?”

· “Dalam perjuangan kemerdekaan ini tidak ada tempat pikiran kacau dan ragu-ragu” kata Hazil. “Saya tidak pernah ragu, dari mulai saya tak tahu-semenjak mula- bahwa jalan yang kita tempuh ini adalah tidak ada ujung.

· “pensiun Tuan akan kami bayar, dan nanti kalau ada tempat yang pantas untuk tuan, maka tuan akan kami panggil, “ Demikianlah kira-kira Belanda itu berkata padanya.

· “Amat berat terasa bagi guru Isa untuk merenggut matanya dari Fatimah, karena hingga akhirnya dia masih berharap juga. Dalam hatinya, sebagai biasa juga pada waktu-waktu seperti ini. Dia amat benci dan sedih melihat sinar mata Fatimah yang tiada mengandung kasih dan cinta.

· “Apa yang tinggal dari perkawinan kita kalau demikian ?” guru Isa bertanya malam itu. Jawabnya aku akan menjadi istri yang baik bagimu. Hanya itu ?”

· “Engkau tidak suka padanya ?”

“Tidak, aku tidak suka pada orang yang berpura-pura”.

· Menyembunyikan cinta, benci dan seratus ribu yang lain yang dapat disembunyikan dan dibuat berpura-pura.

· “Dalam revolusi ini”, dia menyusun pikirannya, banyak orang terpaksa melakukan rolnya yang acapkali tidak dikehendakinya”. Sekarang bertambah jelas baginya, terutama kedudukannya sendiri, “Engkau lihat, aku seorang guru. Aku tidak suka kekerasan. Semenjak dahulu aku tidak pernah berkelahi pekerjaan kasar dan orang biadab.

· “Amarah tiada berguna dalam perkara seperti ini”, Kata Hazil yang salah menangkap arti guru Isa. “Protes juga tidak berguna. Semuanya itu terjadi di luar kuasa orang”.

· “Tidak boleh. Tidak boleh”, suara guru Isa gemetar.

· Mereka bergegas keluar melihat truk berhenti.

“Merdeka!”

“Merdeka!”

“Merdeka!”

· “Apa yang mesti, ya mesti”.

“Mati hanya sekali”

“Aku mula-mula mesti tembak, terkencing di celana”.

Mereka tertawa

“Engkau terlalu suka menembak”

“Kalau kita tidak tembak dulu. Mereka tembak kita”

· Ini revolusi seperti banjir dan tidak seorang bisa kuasai lagi perjalanannya.

· Setelah menjual buku tulis kepada warung Tionghoa di pasar Tanah Abang. Guru Isa bergegas pulang.

· “Tapi ini sungguh penting” kata guru Isa “perjuangan kita”.

Tuan Hamidy melihat pada guru Isa.

“Bukankah persetujuan linggar jati sudah ditandatangani.

· “ Merdeka !” serunya membuka pintu, dan melihatguru Isa yang duduk bersandar di kursi, pucat dan lesu, dia lekas masuk ke dalam melangkah ke dekat guru Isa.

· Saya akan main musik, “ kata Hazil dan dia pergi kekamar kerja guru Isa.

· Saya akan main musik, “kata hazil dan dia pergi kekamar kerja guru Isa

· “manusia mesti belajar menguasai ketakutannya merasa takut adalah satu perasaan yang sehat, dan kerja kuli ialah melawan rasa takut.

Unsur Instrinsik

a. Tema : perjuangan seorang guru pada masa revolusi

b. Tokoh :

1. Pak Damrah

2. Isa

3. Fatimah

4. Semedi

5. Kamaruddin

6. Hazil

7. Salim

8. Hamid

9. Zubair

10. Hamidy

11. Abdullah

12. Rakhmat

c. Latar : di Jakarta

d. Amanat

Berjuanglah demi kebaikan/kebenaran, jangan tergesa-gesa apabila kita melakukannya. Karena kala kita meyakininya maka perjuangan yang kita inginkan tercapai.

e. Alur

Alur dari cerita tersebut alur maju

f. Sudut pandang

Sudut pandang orang petama dan sudut pandang orang ketiga

g. Gaya penulisan

Sesuai dengan EYD

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar